Padakesempatan sebelumnya, dalam blog Para Pejalan, telah dibagikan juga salah satu Puisi karya Kiyai Mustofa Bisri (Gus Mus) Dengan judul Allahu'akbar.Bagi yang belum membaca silahkan ikuti link tersebut. Ada yang belum mengenal siapakah Gusmus, berikut Biografi lengkap Gus Mus pada postingan Biografi Gus Mus.

Kutipan kalimat di atas adalah penggalan “Puisi Islam“ karya salah satu pemimpin Islamis, Indonesia, Rais Aam Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Mustofa Bisri. Akrab dengan sebutan Gus Mus, Mustofa Bisri dikenal juga sebagai penulis kolom dan budayawan terkemuka di tanah air. Puisi tersebut kembali diperdengarkan dalam sebuah acara yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, akhir Januari lalu. Acara tersebut merupakan kerjasama seni budaya antara Gus Mus dengan dengan seniman Jaya Suprana, tokoh Museum Rekor Indonesia. Apa kira-kira pesan yang ingin disampaikan Gus Mus lewat puisi ini? Lengkapnya puisi tersebut PUISI ISLAM Islam agamaku nomor satu di dunia Islam benderaku berkibar di mana-mana Islam tempat ibadahku mewah bagai istana Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya Islam sorbanku Islam sajadahku Islam kitabku Islam podiumku kelas eksklusif yang mengubah cara dunia memandangku Tempat aku menusuk kanan kiri Islam media massaku Gaya komunikasi islami masa kini Tempat aku menikam sana sini Islam organisasiku Islam perusahaanku Islam yayasanku Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara Islam bursaku Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi Islam makananku Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati Islam kaosku Islam pentasku Islam seminarku, membahas semua Islam upacaraku, menyambut segala Islam puisiku, menyanyikan apa saja Tuhan, Islamkah aku? Di akun facebooknya, Mustofa Bisri, menulis ia tak tahu dan tak peduli apa tanggapan para menteri, pimpinan DPR, jendral-jendral, para ustadz, para cerdik-cendekiawan, budayawan dan seniman yang hadir malam itu tentang puisinya. Bagaimana tanggapan Anda?
PanggungPuisi Gus Mus ( 3 )" LALU AKU HARUS BAGAIMANA. ? "Aku pergi Tahlil kau bilang amalan jahil Aku baca Shalawat Burdah kau bilang itu Bid'ah
Jakarta – “Islam agamaku, nomor satu di dunia. Islam benderaku, berkibar di mana-mana. Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana. Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya. Islam sorbanku. Islam sajadahku. Islam kitabku. Tuhan, Islam kah aku?” Mustofa Bisri atau yang terkenal dengan sebutan Gus Mus membacakan penggalan bait puisi diatas pada saat perayaan 26 Tahun Museum Rekor-Dunia Indonesia Muri di Gedung Kesenian Jakarta. Jaya Suprana menuturkan alasannya mengapa memilih Gus Mus lantaran beliau adalah sosok kiai yang tidak biasa. Dia sempat mengatakan bahwa, “Sekarang kita semua cenderung sibuk memperebutkan kekuasaan dan jabatan, tetapi kiai satu ini justru merusak pasaran. Ia mempermalukan orang lain dengan menolak jabatan. Makanya, saya undang baca puisi.” Kemudian dia menambahkan, “Kita ini sangat hebat dalam menyerap kebudayaan luar menjadi kebudayaan Indonesia. Kita lihat bagaimana agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, berkembang dalam bentuk Indonesia. Ini adalah sebuah pesan bahwa kita harus menjaga keberagaman. Menjaga keberagaman itu harga mati.” Ikhsan Djuhandar –
Olehkarena itulah dan sudah menjadi tradisi di pondok pesantren, panggilan putra Kiyai adalah Gus, dan sampai saat ini beliau dipanggih dengan sapaan Gus Mus. Dengan berbagai macam displin 'ilmu yang dibuktikan beliau lulusan Universitas Al-Ahzar Kairo Mesir, beliau juga menggeluti berbagai macam kegiatan.
Gus Mus Aku ingin seperti santri berbaju putih yang tiba-tiba datang menghadapmu Duduk menyentuhkan kedua lututnya pada lutut agungmu Meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha-paha muliamu Lalu aku akan bertanya! Ya Rasulullah… Tentang Islamku! Ya Rasulullah… Tentang imanku! Ya Rasulullah… Tentang ihsanku! Ya Rasulullah… Mulut dan hatiku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan engkau Ya Rasulullah utusan Allah Tapi ku sembah juga diriku Astagfirullah… Dan risalahmu hanya kubaca bagai sejarah Ya Rasulullah… Setiap saat jasad ku shalat Setiap kali tubuhku bersimpuh Diriku jua yang ku ingat Setiap saat ku baca salawat setiap kali tak lupa ku baca salam Assalamualaika ayyuha Nabiyu warahmatullahi wabarakatuh Salam kepadamu wahai Nabi juga rahmat berkat Allah Tapi, tak pernah ku sadari Apakah dihadapan ku kau menjawab salam ku Bahkan apakah aku menyalamimu Ya Rasulullah… Ragaku berpuasa dan jiwaku ku lepas bagai kuda Ya Rasulullah… Sekali-kali kubayar zakat dengan niat dapat balasan kontan dan berlipat Ya Rasulullah… Aku pernah naik haji, sambil menaikkan gengsi Ya Rasulullah… Sudah Islamkah aku? Ya Rasulullah… Aku percaya Allah dan sifat-sifatnya Aku percaya malaikat, percaya kitab-kitab suci-Nya Percaya Nabi-nabi utusan-Nya Aku percaya akhirat Percaya qada qadaar-Nya seperti yang kucatat dan ku hafal dari ustad Tapi aku tak tahu seberapa besar itu mempengaruhi laguku Ya Rasulullah… Sudah Imankah aku? Ya Rasulullah… Setiap ku dengar panggilan aku menghadap Allah Tapi apakah Ia menjumpaiku Sedang wajah dan hatiku tak menentu Ya Rasulullah… Dapatkah aku berihsan? Ya Rasulullah… Ku ingin menatap meski sekejap wajahmu yang elok mengelok Setelah sekian lama mataku hanya menangkap gelap Ya Rasulullah… Ku ingin mereguk senyummu segar setelah dahaga dipadang kehidupan hambar hampir membuatku terkapar Ya Rasulullah… Meski secercah teteskan cahayamu Buat bekalku sekali lagi menghampiri-Nya
Islamsajadahku. Islam kitabku. Tuhan, Islam kah aku?" Mustofa Bisri atau yang terkenal dengan sebutan Gus Mus membacakan penggalan bait puisi diatas pada saat perayaan 26 Tahun Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) di Gedung Kesenian Jakarta. Jaya Suprana menuturkan alasannya mengapa memilih Gus Mus lantaran beliau adalah sosok kiai yang tidak biasa.
PUISI ISLAM Gus Mus salah satu karangan KH. A. Mustofa Bisri Gus Mus ………………………………………PUISI ISLAM……………………………….. Islam agamaku nomor satu di dunia Islam benderaku berkibar di mana-mana Islam tempat ibadahku mewah bagai istana Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya Islam sorbanku Islam sajadahku Islam kitabku Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandang Tempat aku menusuk kanan kiri Islam media massaku Cahaya komunikasi islami masa kini Tempat aku menikam saat ini Islam organisasiku Islam perusahaanku Islam yayasanku Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara Islam pulsaku Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi Islam makananku Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati Islam kaosku Islam pentasku Islam seminarku, membahas semua Islam upacaraku, menyambut segala Islam puisiku, menyanyikan apa saja Tuhan islamkah aku? Kumpulanpuisi gus mus (kh. Kau ini bagaimana atau aku harus bagai mana kau ini bagaimana? Kumpulan syair dan puisi gus mus sujud bagaimana kau hendak bersujud pasrah, sedang wajahmu. Kh mustofa bisri, atau akrab disapa gus mus, ulama asal rembang yang juga seorang penyair ini, membacakan puisi lamanya yang berjudul aku . Pengantar Najwa Shihab dalam acara teve Mata Najwa edisi Gus Mus dan Negeri Teka-teki menggambarkan sosok Gus Mus sebagai ulama yang fasih mengucapkan aneka dalil sekaligus budayawan yang aktif melakoni beragam kesenian mutakhir. Kata Najwa, “…kepada Gus Mus kita dapat belajar tentang menjadi islam sekaligus Indonesia.” Demikian. Belum terlalu lama, Yayasan Yap Thiam Hien memberi penghargaan Yap Tiap Thiam Hien Award yang fokus di bidang perjuangan Hak Asasi Manusia HAM kepada Gus Mus. Agak nakal Gus Mus menyebut penghargaan yang diberikan kepadanya itu sebagai hal yang “lebay”. Menurut beliau, penghargaan itu tidak cocok dengan kegiatan beliau selama ini yang tidak lantang berjuang di bidang HAM. Hadir dalam Mata Najwa Trans TV edisi 13 Juni 2018 ialah Todung Mulya Lubis, ketua Yayasan Yap Thiam Hien. Menanggapi istilah “lebay” dari Gus Mus ia memberi penjelasan lekas masuk akal bagi pemirsa. Kendati menurut sebagian orang Gus Mus bukan pejuang HAM, Yayasan Yap Thiam Hien menyikapinya berlainan. Jajaran yayasan meneliti rekam jejak Gus Mus lantas berani mengatakan bahwa selama ini segala yang dikerjakan Gus Mus ialah untuk HAM walaupun Gus Mus tidak pernah menyebut-nyebut tentang Hak Asasi Manusia. Membela hak untuk beribadah, membela hak untuk beragama, membela keberagaman, membela kedamaian, menolak segala bentuk korupsi dan sebagainya. Itulah deretan alasan yang menyatakan bahwa Gus Mus sosok yang tepat untuk menerima penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017. Pernyataan Todung yang perlu saya kutip ialah kejujurannya menyatakan bahwa jalan Gus Mus dalam membela HAM berlainan dengan Munir Thalib—aktivis HAM yang jelas kita kenal rekam jejaknya. “Gus Mus memang tidak ikut kamisan. Gus Mus ini bukan Munir yang berteriak lantang. Tapi dari puisi-puisi, khotbah, dan semua yang dilakukan oleh Gus Mus, memang memberikan semua komitmennya untuk membangun Indonesia yang hormat terhadap hak asasi manusia”. Rimbun Inklusivitas Puisi Gus Mus adalah kiai yang gemar menulis puisi. Puisi-puisinya menyuarakan berbagai permasalahan sosial dan terutama juga merepresentasikan nilai-nilai Islam yang inklusif. Banyak di antara puisi yang ditulisnya di kurun waktu 1990an masih relevan dengan geliat laju zaman terkini. Meski mengaku tak pernah belajar pengetahuan mengenai nasionalisme, hak asasi manusia, dan beragam ilmu pengetahuan modern ala barat, nyatanya beliau seorang nasionalis yang memiliki ragam pengetahuan modern yang tak kalah baik dengan pengetahuannya tentang islam. Puisi-puisinya menjadi bukti kedalaman pikir Gus Mus menapaki jalan berpengetahuan dan beragama dalam kaidah sosial Indonesia. Kita simak sedikit Tebak saja/Jangan tanya siapa/Membunuh buruh dan wartawan/Siapa merenggut nyawa/Yang dimuliakan Tuhan/Tebak saja/Jangan tanya siapa/Membakar hutan dan emosi rakyat/Siapa melindungi penjahat keparat/Jangan tanya mengapa Negeri Teka-teki, 1997. Pembaca lekas menduga Gus Mus memiliki basis pengetahuan atawa informasi yang memadai terkait beragam permasalahan negeri. Konflik buruh dengan perusahaan, penganiayaan wartawan, pembakaran hutan untuk pembukaan lahan baru, para koruptor yang nyenyak tiduran di sofa pemerintahan. Sebagai penyair beliau tak tegas menyebut negeri dalam puisi ialah negeri yang dicintainya Indonesia Raya. Pembaca disilakan menafsir sendiri sebab penyair telah memilih lema “Negeri Teka-teki” sebagai judul puisi. Tebak saja dan jangan tanya, katanya. Puisi lain yang dapat ditafsir sebagai permenungan Gus Mus ihwal momentum besar dalam Islam dan kesadaran beliau mengenai perlunya menjaga keseimbangan hubungan dengan semesta alam. Puisi itu berjudul “Selamat Idul Fitri”, dipublikasikan di akun Facebook pribadinya pada 29 Agustus 2011 lalu. Kita perlu menyimak dengan khidmat yang agak panjang Selamat idul fitri, bumi/Maafkan kami/Selama ini/Tidak semena-mena/Kami memerkosamu//Selamat idul fitri, langit/Maafkan kami/Selama ini/tidak henti-hentinya/ Kami mengelabukanmu//Selamat idul fitri, mentari/Maafkan kami/Selama ini/Tidak bosan-bosan/Kami mengaburkanmu//Selamat idul fitri, burung-burung/Maafkan kami/Selama ini/Tidak putus-putus/Kami membrangusmu//Selamat idul fitri, tetumbuhan/Tidak puas-puas/Kami menebasmu//. Sebagai salah seorang tokoh yang dituakan dalam organisasi islam sebesar Nahdlatul Ulama NU, Gus Mus terbaca sebagai sosok yang berani jujur menanggapi kehidupan beragama dalam realitas sosial. Mari kita baca puisinya yang berjudul “Puisi Islam”. Islam organisasiku/Islam perusahaanku/Islam yayasanku//Islam istanaku, menara dengan seribu pengeras suara/Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara…/Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci/Islam festivalku memeriahkan hari-hari mati…/Islam seminarku, membahas semua/Islam upacaraku, menyambut segala/Islam puisiku, menyanyikan apa saja//Tuhan Islamkah aku? NU jelas organisasi Islam tempat Gus Mus aktif berkegiatan. Tradisi tempat ibadah kaum muslimin khususnya di Indonesia karib dengan pengeras suara untuk berbagai peristiwa berkelindan dengan ibadah mengumandangkan azan, iqamah, melakukan puji-pujian, khotbah. Muktamar ialah bahasa khas NU dan ormas islam lain di Indonesia dalam menamai pertemuan tertinggi guna merumuskan penyelesaian atas permasalahan yang ada dalam tubuh keorganisasian. Puisi diakhiri dengan pertanyaan penyair yang lekas jadi pertanyaan bagi pembaca dan susah peroleh jawab. Tuhan, Islamkah aku? Buah dari Pohon Pendidikan Kampung Mengaku tak pernah mengenyam pendidikan modern dan baru belakangan belajar mengenai ilmu-ilmu pengetahuan modern barat dari kecanggihan media internet, Gus Mus tumbuh di lingkungan pendidikan pondok pesantren sejak belia. Pendidikan yang diterima Gus Mus ialah pendidikan tradisional berbasis pesantren. Menarik ketika beliau menceritakan ihwal gurunya di masa-masa belajar di pondok pesantren dulu. Beliau menyebut gurunya sebagai orang kampung, kiai kampung. Kepada Gus Mus, kiai itu pernah bilang begini “Kamu itu manusia punya hak, tapi juga punya kewajiban. Dalam bahasa arab, al-haqqu bisa berarti hak, bisa berarti kewajiban. Jangan pikirkan hakmu, tapi pikirkan kewajibanmu terhadap hak orang lain, orang lain memiliki hak sebagai manusia, maka hargailah itu sebagai tanggung jawabmu”. Kecanggihan pandangan sang guru membekas kian dalam, menghunjam dan leram dalam diri Gus Mus. Segala kegiatan dan karya-karya puisi Gus Mus rasa-rasanya memang terbaca menuju ambisi menghargai hak orang lain. Sebagai warga negara Indonesia, ia juga seorang republikan tulen yang memegang penuh kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI. Rasa cinta kepada tanah air rupanya juga buah dari pendidikan sang guru kampung. Pesan sang guru perlu saya kutip penuh sebagai berikut. “Indonesia ini rumahmu, jaga, rawat. Orang yang ada di Indonesia adalah saudara-saudaramu. Ada yang setara ayahmu, kakekmu, ibumu, adik-adikmu. Maka itu jaga. Ini rumahmu tempat kau dilahirkan, tempat kau menghirup udaranya, tempat kau bersujud, tempat kelak mungkin kau dikebumikan. Jaga dan rawat. Sesederhana itu.” Belajar menjadi Islam dan kemudian Indonesia sejatinya memang sederhana pabila kita membaca sosok Gus Mus beserta karyanya. Berpegang pada dua lema kunci yakni “jaga dan rawat” kita lekas perlu lebih banyak menjaga dan merawat keberagaman yang ada. Agama, suku, tanah, laut, udara, hak asasi manusia, dan segala hal yang berkelindan dengan Indonesia. Sudah Islamkah kita? Sudah Indonesiakah kita? Wallahu Alam Bisshawab. Author Recent Posts Tertarik dengan isu seputar perempuan, lingkungan, dan seni-budaya. Tulisannya pernah dimuat di Solopos, Kabar Madura, dan Radar Bojonegoro. Instagram lailymuallifa Mulutdan hatiku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa engkaulah utusan Allah tapi kusembah jua diriku, Astaghfirullah! Dan risalahmu hanya kubaca bagai sejarah. Ya Rasulullah Setiap saat jasadku solat setiap kali diriku bersimpuh diriku juga yang kuingat, setiap saat kubaca shalawat setiap saat tak lupa kusampaikan salam
Home » Kongkow » Puisi » Puisi Islam - Jumat, 09 Oktober 2020 1900 WIB Islam agamaku, nomor satu di dunia Islam benderaku, berkibar dimana-mana Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya Islam sorbanku Islam sajadahku Islam kitabku Islam podiumku, kelas eksklusif yang mengubah cara dunia memandangku Tempat aku menusuk kanan-kiri Islam media-massaku, gaya komunikasi islami masa kini Tempat aku menikam sana-sini Islam organisasiku Islam perusahaanku Islam yayasanku Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara Islam muktamarku, forum hiruk-pikuk tiada tara Islam bursaku Islam warungku, hanya menjual makanan sorgawi Islam supermarketku, melayani segala keperluan manusiawi Islam makananku Islam teaterku, menampilkan karakter-karakter suci Islam festivalku, memeriahkan hari-hari mati Islam kausku Islam pentasku Islam seminarku, membahas semua Islam upacaraku, menyambut segala Islam puisiku, menyanyikan apa Tuhan, Islamkah aku? Sajak puisi yang berjudul “PUISI ISLAM” ini di karang oleh GUSMUS, suka kata - kata terakhirnya ; “Tuhan, Islamkah aku?” Sumber Cari Artikel Lainnya
11Puisi Islami Pendek Menyentuh Hati tentang Hijrah dan Cinta. Kumpulan Syair Dan Puisi Gus Mus - [PDF Document] 37+ Puisi islami anak sholeh info | puisipemudaku. Pesan Dakwah dalam Puisi Gus Mus. Aku Bangga Menjadi Muslim Pages 1 - 17 - Flip PDF Download | FlipHTML5. Puisi Agama Islam for Android - APK Download
Aku Merindukanmu, O, Muhammadku Aku Merindukanmu, O, MuhammadkuOleh KH A Mustofa BisriAku merindukanmu, o, MuhammadkuSepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalahMenatap mataku yang tak berdayaSementara tangan-tangan perkasaTerus mempermainkan kelemahanAirmataku pun mengalir mengikuti panjang jalanMencari-cari tanganLembut-wibawamu Dari dada-dada tipis papanTerus kudengar suara serutanDerita mengiris berkepanjanganDan kepongahan tingkah-meningkahTelingaku pun kutelengkanBerharap sesekali mendengarMerdu-menghibur suaramu Aku merindukanmu, o. Muhammadku Ribuan tangan gurita keserakahanMenjulur-julur kesana kemariMencari mangsa memakan korbanMelilit bumi meretas harapanAku pun dengan sisa-sisa suarakuMencoba memanggil-manggilmuO, Muhammadku, O, Muhammadku!Dimana-mana sesama saudaraSaling cakar berebut benarSambil terus berbuat kesalahanQur'an dan sabdamu hanyalah kendaraanMasing-masing mereka yang berkepentinganAku pun meninggalkan merekaMencoba mencarimu dalam sepi rindukuAku merindukanmu, O, MuhammadkuSekian banyak Abu jahal Abu LahabMenitis ke sekian banyak umatmu O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu - bagaimana melawan gelombang kebodohanDan kecongkaan yang telah tergayakanBagaimana memerangiUmat sendiri? O, Muhammadku Aku merindukanmu, o, MuhammadkuAku sungguh merindukanmuBagaimana Aku Menirumu, O KekasihkuBagaimana aku menirumu, o kekasihkuOleh KH A Mustofa BisriEngkau mentariAku bumi malam hariBila tak kau sinariDari mana cahaya akan kucari?Bagaimana aku menirumu, o kekasihkuEngkau purnamayang menebarkan senyum kemana-manaAku pekat malam tanpa ronaBagaimana aku menirumu, o kekasihkuEngkau mata airAku di muaraDimana kucari jernihmuBagaimana aku menirumu, o kekasihkuEngkau samudraAku di pantaiHanya termangu Engkau merdekaAku terbelenggu Engkau ilmuAku kebodohanEngkau bijaksanaAku semena-menaDiammu tafakkurDiamku mendengkur Bicaramu pencerahanBicaraku ocehanEngkau memberiAku meminta Engkau mengajakAku memaksaEngkau kaya dari dalamAku miskin luar-dalamMiskin bagimu adalah pilihanMiskin bagiku adalah keterpaksaanBagaimana aku menirumu, o kekasihkuYa Rasulullah,,,Ya Rasullullah….Oleh KH A Mustofa BisriYa Rasulullah… aku ingin menjadi santri berbaju putih yang tiba-tiba datang menghadapmu,duduk menyentuhkan lututnya pada lututmu yang agung dan meletakkan telapak tangannya di atas paha muliamu,lalu aku akan bertanya….???Ya Rasulullah… tentang Islamku,Ya Rasulullah… tentang Imanku,Ya Rasulullah… tentang Ihsanku. Ya Rasulullah… Mulut dan hatiku bersaksi tiada tuhan selain allah dan bersaksi bahwa engkaulah utusan allah tapi ku sembah jua diriku Astaghfirullah…!! Dan risalahmu hanya ku baca bagai Rasulullah…Setiap saat jasadku solat setiap kali diriku bersimpuh diriku juga yang ku ingat, setiap saat ku baca shalawat setiap saat tak lupa ku sampaikan salam” Assalamu alaika ayyuhan Nabiyu warahmatullahu wabarokatuh”salam padamu wahai nabi juga rahmat dan berkat allah tapi tak pernah ku sadari apakah di hadapanku kau menjawab salamku bahkan apakah aku Rasulullah… ragaku berpuasa dan jiwaku ku lepas bagai kudaYa Rasulullah… sekali-kali ku bayar zakat dengan niat mendapat balasan kontan dan berlipatYa Rasulullah… aku pernah naik haji sambil menaikkan Rasulullah… Sudah Islamkah aku?Ya Rasulullah…Aku percaya Allah dan sifat-sifatNYA, aku percaya malaikat, percaya kitab suciNYA , percaya Nabi-nabi utusanNYA, aku percaya akhirat, percaya Qada QadarNYA seperti yang ku catat dan ku hafal dari Ustaz, tapi aku tak tahu seberapa besar itu mempengaruhi Rasulullah… sudah Imankah aku…???Ya Rasulullah… ku dengar panggilan aku menghadap Allah tapi apakah DIA menjumpaiku sementara wajah dan hatiku tak Rasulullah… dapatkah aku berihsan…???Ya Rasulullah… ku ingin menatap meski sekejap wajahmu yang elok mengelok setelah sekian lama mataku hanya menangkap Rasulullah… ku ingin mereguk senyummu yang segar setelah dahaga di padang kehidupan hambar hampir membuatku Rasulullah… meski secercah titiskan pada ku cahayamu buat bekalku sekali lagi menghampiri NYA.
puisi gus mus islamkah aku
xzXnr0.
  • d5xgl7rirv.pages.dev/86
  • d5xgl7rirv.pages.dev/106
  • d5xgl7rirv.pages.dev/230
  • d5xgl7rirv.pages.dev/281
  • d5xgl7rirv.pages.dev/59
  • d5xgl7rirv.pages.dev/245
  • d5xgl7rirv.pages.dev/303
  • d5xgl7rirv.pages.dev/28
  • d5xgl7rirv.pages.dev/151
  • puisi gus mus islamkah aku